Senin, 01 Oktober 2012

Membuat Event Modal Dengkul


Beberapa bulan lalu saya sempat mengikuti sebuah workshop bertajuk "Membangun Merk dengan Modal Dengkul" yang diselenggarakan oleh Komunitas TDA Depok dengan mengundang Bapak Iwan Purnama sebagai narasumber. Pak Iwan ini adalah mantan manager di PT. Faber Castell International Indonesia yang mampu meningkatkan omzet perusahaan dari 500 juta perbulan menjadi 30 M perbulan. Setelah sukses meningkatkan omset tersebut, beliau diangkat untuk wilayah operasional Asia-Pasifik.

Dokumentasi saat ikut workshop "Membangun Merk dengan Modal Dengkul"

Saya sangat terkesan sekali dengan ilmu-ilmu yang ia bagikan dalam workshop saat itu. Saya ternganga, ternyata memang bisa ya membangun merk dengan modal dengkul. Saat itu beliau memberikan beberapa contoh aplikatif yang amat mudah dipahami namun memang memerlukan kerja keras untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan tersebut.

Salah satu contoh kegiatan yang beliau sarankan untuk membangun merk adalah dengan aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang mempresentasikan merk kita, tidak usah takut modal besar untuk melakukannya, karena itu semua dapat diselenggarakan dengan budget yang minim, "zero", atau bahkan malah menguntungkan secara finansial juga... Wahh... siapa yang ga mau coba? Tapi ya itu perlu trik, kerja keras dan pengalaman juga kayaknya.

Secara garis besar saya menyimpulkan untuk membuat event bermodal dengkul alias gratis adalah dengan memanfaatkan 100 persen biaya pendaftaran dan dana sponsor untuk membiayai sebuah event. Trik-nya agar semua biaya penyelenggaraan event dapat tertutupi, maka perbesarlah jumlah peserta dan jumlah dana sponsor. Bagaimana memperbesar jumlah peserta? Carilah jenis event yang kecendrungannya amat mudah mendatangkan peserta. Pak Iwan mencontohkan sebuah event Lomba Mewarnai. Amat mudah bagi panitia mengundang peserta lomba tersebut karena panitia dapat melibatkan sekolah-sekolah di tingkat TK ataupun SD. Bahkan panitia dapat menjanjikan pihak sekolah sekian persen uang pendaftaran dari sekolah bersangkutan akan menjadi milik pihak sekolah. Kalau yang ini dilematis juga nih, sekolah koq jadi komersil begini :P

Lalu bagaimana memperbesar jumlah dana sponsor? Dengan jumlah peserta yang besar, maka nilai jual event akan menjadi sangat tinggi. Akan banyak sponsor yang mau terlibat. Untuk menutupi biaya sewa tempat, bisa bernegosiasi dengan pihak Mall yang pasti akan senang kedatangan 500-1.000 peserta lomba yang biasanya diantar oleh orangtuanya masing-masing. Mall ramai, tenant pun ikutan senang. Untuk menutupi biaya hadiah dan operasional acara, tidak sedikit sponsor produk-produk anak yang mau terlibat. Tinggal bagaimana panitia dapat mengemas dan meyakinkan bahwa peserta yang ikut kegiatan ini adalah riil dan potential buyer bagi produk mereka.

Asyik ya kelihatannya? Belum dijamin se-asyik kelihatannya sih... saya juga belum mempraktekkannya di Ecokiddy. Insyaallah suatu saat nanti. Yang jelas ketika melihat Lomba Mewarnai yang Fathan ikuti kemarin, jadi membuka memori saya tentang hasil workshop tempo hari. Untuk membangun merk-nya, Penerbit Buku Erlangga tak tanggung-tanggung mengadakan event Lomba Mewarnai dan Fashion Show untuk anak usia TK dan SD di beberapa mall di Jakarta. Menggandeng toko buku besar seperti Gramedia dan Gunung Agung sebagai tempat pendaftaran dan tempat penyelenggaraan. Mencantumkan pembelian 2 buah buku terbitan Erlangga sebagai salah satu persyaratan lomba adalah guna mendapatkan biaya pendaftaran secara tidak langsung. Sebagaimana cerita saya sebelumnya DISINI.

Memang secara kasat mata saya lihat Penerbit Erlangga tidak bermodal ZERO, tapi cukup minimum budget. Target penguatan merk-nya dapet! Itu yang penting.... Setelah acara, anak-anak jadi tahu Handy Manny itu ada buku-nya lho, Little Einstein juga ada. Jadi ga cuma film-nya aja yang bisa dinikmati. Besok-besok beli buku Penerbit Erlangga aja deh, ternyata bagus juga ya buku-bukunya, itu versi orangtua yang tidak pernah melihat nama penerbit sebagai acuan. Jadi... kena deeehhh :P Kena perangkap marketing dan branding strategy-nya Penerbit Erlangga :D

Secara total memang perlu riset internal, sejauhmana keberhasilan program ini bagi Penerbit Erlangga. Bagi saya pribadi kegiatan ini sudah cukup mengangkat Penerbit Erlangga sebagai sebuah merk yang cukup kuat. Memang apa gunanya memiliki merk yang kuat, toh yang penting produk laku dijual? Manfaat memiliki merk yang kuat adalah untuk membantu memudahkan konsumen membedakan produk dan jasa yang kita tawarkan dibandingkan dengan milik orang lain. Jika sudah menjadi leader dalam hal merk ini, produk kita bisa keluar dari perang harga, tak perlu terlalu repot menjelaskan keunggulan produk dan masih banyak manfaat lainnya. Ga heran kalau ditanya mau beli pasta gigi merk apa, atau mau beli deterjen merk apa, pasti sudah ada merk-merk tertentu yang menguasai alam pikiran kita, iya kan? Yang akhirnya amat menentukan diri kita untuk membuat keputusan membeli produk yang mana.

*MenungguEcokiddyPunyaEventModalDengkul

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berbagi artikel ini :

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...