Minggu, 18 Mei 2014

Dibalik Bazaar PW TDA 2014 :
Giver VS Taker (Seri 2)

Catatan berikut merupakan tulisan kedua saya di milis TDA Bekasi yang bertajuk "Dibalik Bazaar PW TDA Bekasi" :

Satu cerita yang ingin saya bagi dengan teman2 semua pada saat kami membuka stand kuliner kemarin. Di pagi hari pertama, kami kedatangan satu orang anak muda. Agak sedikit lebih muda dari Ubay (Member TDA Bekasi yang masih ditunggu2 undangan pernikahannya, hehe..). Ternyata ia adalah salah satu rombongan dari TDA Jogja, mungkin lebih tepatnya dari TDA Kampus Jogja. Dengan diplomatis dan sedikit mengiba tanpa basa-basi meminta saya memberikan harga spesial untuk dirinya bersama teman2 TDA Kampus Jogja lainnya. Nasi Kuning yang saya jual seharga Rp 10.000 ditawar habis diharga RP 6.000,-. OMG... marginnya dipotong habis, dalam hati saya. Cerdasnya, mereka berhasil bernegosiasi dengan kalimat2 yang sulit bagi saya untuk menolak.
Oh ya sebelumnya mereka sudah bertemu dengan penjaga stand a.k.a adik saya sendiri. Namun tidak berhasil menawar, dan akhirnya menanyakan siapa pemilik stand ini. Bertemu dengan saya, berikut cuplikan percakapan kami pagi itu kurang lebih :
 

Mahasiswa R : "Bu Erlin, saya sudah keliling seluruh stand di acara ini, nasi ibu ini yang paling murah. Boleh bu untuk mahasiswa dikasih harga Rp 6.000?
Erlin : "Mohon maaf belum bisa mas..."
Mahasiswa R : "Boleh ya bu, untuk TDA Kampus bu, mahasiswa semua, kami dari Jogja bu... kalo Rp 7.000 boleh ya bu?
Saya : "aduh gimana ya, mohon maaf belum bisa mas..." (Saya mulai ragu, ketika tahu mereka mahasiswa)
Mahasiswa R : "Boleh ya bu Rp 7.000 aja nanti selama 3 hari saya dan teman-teman akan beli nasi ditempat ibu, jadi langganan."
Saya : "Belum bisa mas, memang kalian ada berapa orang?"
Mahasiswa R : "Sekitar 12 orang bu, bisa ya bu" (saya lupa jumlah pastinya berapa yang mahasiswa ini sebut, seingat saya sekitar 10-15 orang)
Saya : "Hmm.. gini aja mas. Saya kasih harga 7.000 tapi kalian beli minumnya sama saya ya. Saya jual paket jadinya, 10.000 sudah sama air mineral 600ml, gimana? (Ini berarti saya jual air mineral seharga 4.000 menjadi 3.000)
Mahasiswa R : "Oh gitu ya bu, saya tanya teman2 dulu ya bu, nanti saya kembali lagi"


Berulang kali diminta, akhirnya saya menyerah. Menyerah karena 2 hal :
1. Karena saya teringat saat masa kuliah di Bogor dulu, cukup jauh dari orangtua, sehingga segala sesuatunya tentang keuangan perlu diperhitungkan. Meski kalo saya jadi seperti mahasiswa Jogja ini, mungkin saya tidak punya nyali untuk bernegosiasi seperti itu. Jadi saya cukup kagum dengan kegigihan, keberanian dan kepercayaandirinya.
2. Karena saya anggap mahasiswa ini MEMINTA bukan menawar makanan yang saya jual. Kalau menawar, pasti saya berusaha untuk tetap pada harga jual yg sudah kami tetapkan. Semua orang tahu kalo menjual makanan apalagi sudah ada daftar harga terpampang, tidak akan ada orang yang mau menawar. Harga cocok ya dibeli, ga cocok ya cari makanan lain. Jadi pikir saya kalau ada yang sampai berani menawar itu berarti dia memang butuh bantuan. Untuk memperkecil kerugian saya minta mereka menambah kuantitas pembelian yaitu dengan meminta mereka membeli minuman pada kami, yang pasti mereka butuhkan juga.

Setelah mengabarkan teman2nya, mahasiswa ini kembali dan membeli sesuai harga yang saya berikan terakhir. Selama 3 hari berturut2 akhirnya mereka membeli makan di stand kami. Lalu pada setiap sore harinya mereka meminta kepada kami agar diberikan stok nasi yang tidak terjual. Alhamdulillah meski setiap hari ada saja stok nasi yang tidak terjual, semua nasi tersebut tidak ada yang terbuang.

Selama 3 hari pameran kemarin, penjualan nasi di stand kami tembus di angka rata2 160 porsi nasi per hari. Alhamdulillah. Hari pertama terjual 187 porsi, hari kedua terjual 150 porsi, hari ketiga terjual 145 porsi. Mungkin lebih tepatnya di angka rata2 150 porsi per hari, karena di hari pertama ada pembelian jumlah besar di pagi hari (Lagi2 membuktikan bahwa datang lebih pagi memang banyak manfaatnya :D). Saya tidak saja mensyukuri angka penjualan yang "sesuatu" banget buat saya yang sekarang ini tidak bergerak di bidang kuliner, tapi saya juga mensyukuri kenyataan bahwa berarti setidaknya ada 150 orang per hari yang memakan dan mengambil manfaat dari hidangan yang kami sediakan. Alhamdulillah...

Tanpa sadar, ternyata 3 hari itu saya sedang dilatih mempraktekkan "Giving Entrepreneur" yang disebut Pak Yuswohady kemarin. Bagaimana cara agar kita bisa menjadi seorang "GIVER" bukan "TAKER".

Taker : Self-oriented, money-oriented, power, pleasure n winning.
Giver : Other-oriented, help others-oriented, responsibility, love n compassion.

Kemarin sore, satu hari setelah pameran berakhir, datang sebuah pesan singkat dari mahasiswa R ke HP saya. Bunyinya:
"Terima kasih banyak ibu, untuk bantuannya selama ini. Maaf saya belum bisa bantu apa-apa untuk membalas bantuan ibu. Semoga Allah menggantikannya dengan lebih Ibu. Amin."

Woww... subhanallah rasanya sulit digambarkan. Mungkin persis perasaan Andrew Kaskus yang happy banget, kalau web/forum yang dia buat dari iseng2 bisa dipakai dan diambil manfaatnya oleh orang banyak. Itu sepertinya yang saya rasakan.

Saya jadi ingat, di hari terakhir bazaar, rombongan TDA Jogja melintas di depan stand saya, dan kebetulan saya sedang berada disana. Sebagian orang yang berjalan di depan rombongan tersenyum ke arah kami, saya agak bingung, siapa ya mereka? dan salah satu ibu di bagian akhir rombongan menyeletuk (tanpa sadar nampaknya) ... "Ooh... ini toh ibu-nya R" sambil melihat ke arah saya. Hehe.. ternyata saya punya anak lagi selama di pameran kemarin. Tak apalah jadi ibu dadakan asal tidak jadi "Bu Sakti" seperti yang dibilang Mas Rene Suhardono, karena saya maunya bisa jadi pengusaha SUKSES bukan pengusaha SAKSESSS :P

Semoga cerita saya ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya. Insyaallah pengalaman lain tentang bazaar kemarin akan saya tulis pada seri selanjutnya :)

-erlin-

@erlinkarlina | BB 75803981 |
www.ecokiddy.com

 *Catatan:
  Tulisan yang sama sebelumnya sudah diposting pada milis TDA Bekasi pada tanggal 17 Mei 2014 lalu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berbagi artikel ini :

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...